Arti dan Ruang Lingkup Metodologi Studi Islam

Rasionalisasi Studi Islam

Gagasan pembaruan Islam dapat dilacak di era pra abad modern, yakni pada pemikiran-pemikiran Ibn Taimiyah (7-8 H/13-14 M). Taimiyah banyak mengkritik praktik-praktik Islam populer yang menurutnya tidak sesuai dengan ajaran Islam dan menyerukan kembali kepada al-Qur’an dan Hadits. Gagasan ini kemudian mengilhami purifikasi Wahabiyyah di Arab Saudi pada Abad ke 18 yang secara keras menolak tradisi-tradisi yang dinilai tidak Islami (Jainuri, 2002).

Jika gagasan pembaruan pra abad modern dilakukan sebagai otokritik terhadap praktik keberagamaan populer umat Islam, pembaruan di era modern lebih merupakan respon umat Islam terhadap tantangan perubahan yang ditawarkan modernitas Eropa. Di era ini tercatat beberapa tokoh yang cukup populer seperti Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh dan Rashid Rida. Proses pembaruan di era modern mengalami dinamika yang cukup kompleks. keinginan untuk menyelaraskan nilai-nilai Islam dengan modernitas melahirkan banyak pemikir dengan karakteristik dan kecenderungannya masing-masing (Ananda & Fata, 2018).

Perubahan paradigma keagamaan ditandai dengan karya-karya pemikiran modern yang melakukan interpretasi liberal terhadap teks keagamaan dan peninjauan doktrin salaf maupun modern. Asumsi dasar tentang gagasan liberalisme adalah bahwa ijtihad atau penalaran akal terhadap teks-teks keislaman merupakan prinsip utama yang memungkinkan Islam terus bertahan dalam segala situasi. Gagasan liberalisme dalam Islam antara lain dengan menafsirkan agama berdasarkan religio-etik al-Qur’an dan Sunnah Nabi, gagasan tentang kebenaran agama yang relatif, serta berpijak pada penafsiran Islam yang memihak kaum minoritas dan tertindas.

Hakikat Metodologi Studi Islam

Metode dari bahasa Yunani, meta (sepanjang) dan hodos (jalan). Metodos berarti cara atau jalan. Metode adalah cara kerja yang memiliki sistem untuk mempermudah pelaksanaan kegiatan guna mencapai tujuan yang telah ditentukan. Definisi lain menyebutkan bahwa metode adalah ajaran yang memberikan uraian, penjelasan dan penentuan nilai. Hugo F. Reading menyatakan bahwa metode adalah kelogisan penelitian ilmiah, sistem tentang prosedur dan teknik riset.

Sedangkan metodologi berasal dari kata metodos (jalan) dan logos (ilmu). Metodologi adalah ilmu tentang cara untuk sampai pada tujuan. Metodologi bukan sekedar kumpulan cara yang sudah diterima (well received), tetapi berupa kajian tentang metode. Dalam metodologi terbuka luas untuk mengkaji, mendebat, merefleksi cara kerja suatu ilmu. Istilah metodologi studi Islam digunakan ketika seseorang ingin membahas kajian seputar beragam metode yang biasa digunakan dalam studi Islam.

Arti dan Ruang Lingkup Studi Islam

Studi Islam, dirasah Islamiyyah atau Islamic Studies dapat dikatakan sebagai sebuah usaha untuk mempelajari hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam (Tajib dkk, 1994). Berdasarkan pernyataan tersebut, studi Islam merupakan usaha sadar dan sistematis untuk mengetahui serta membahas secara mendalam tentang hal ihwal berhubungan dengan agama Islam, baik berupa ajaran, sejarah maupun praktik keseharian sepanjang sejarahnya. Menurut Nurhakim (2004), terma studi Islam dapat diartikan sebagai kajian Islam. Hal ini berati bahwa studi Islam adalah memahami, mempelajari atau meneliti tentang Islam

Terma atau istilah studi Islam memiliki beberapa konotasi makna sebagai berikut :

  • Aktifitas atau program pengkajian dan penelitian terhadap agama sebagai objeknya, misal pengkajian tentang zakat profesi,
  • Studi Islam diartikan sebagai materi, subjek, bidang dan kurikulum suatu kajian atas Islam,
  • Studi Islam dimaknai sebagai institusi pengkajian Islam, baik formal seperti perguruan tinggi, maupun non-formal seperti forum kajian atau halaqoh.

Istilah Dien (دين) secara bahasa menurut H. Moenawar Cholil (1995) : Adat kebiasaan, peraturan, nasihat, agama. Terdapat 4 ciri agama sebagai berikut :

  • Kepercayaan terhadap yang gaib, Maha Agung, Sang Pencipta (Tuhan),
  • Melakukan hubungan vertikal dengan cara tertentu (upacara ritual, pemujaan, pengabdian, doa, puasa),
  • Memiliki ajaran/doktrin yang harus dijalankan setiap pemeluknya,
  • Adanya utusan/rasul dan kitab suci.

Studi Islam memiliki beberapa urgensi (kegunaan), antara lain (Kodir, 2014):

  • Alternatif dalam mengatasi problem yang dihadapi umat
  • Meluruskan arah menuju masa depan
  • Menggali kembali ajaran Islam yang asli dan murni & bersifat manusiawi dan universal.
Suka artikel ini? Silakan Share.