Manusia dan Kebutuhan Beragama

Manusia sebagai makhluk sempurna di antara makhluk lainnya, mampu mewujudkan setiap keinginan dan kebutuhan dengan kekuatan akal yang dimilikinya. Di samping itu, manusia juga mempunyai kecenderungan untuk mencari sesuatu yang mampu menjawab segala pertanyaan yang ada di benaknya. Keinginan itulah yang menjadikan manusia gelisah dan mencari pelampiasan dengan melakukan tindakan di luar rasionalitas. Munculnya pemujaan terhadap benda-benda atau sesuatu yang dianggap lebih kuat merupakan bukti adanya rasa ingin tahu dan kegelisahan manusia terhadap sesuatu yang tidak atau belum diketahuinya.

Menurut sebagian ahli, rasa ingin tahu, rasa takut dan kegelisahan menjadi pendorong utama tumbuh suburnya rasa keagamaan dalam diri manusia. Ia merasa berhak untuk mengetahui dari mana ia berasal, untuk apa ia berada di dunia, apa yang harus dilakukan demi kebahagiaannya di dunia dan di akhirat nanti. Agama dianggap mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. Oleh karena itu, sangat logis jika agama selalu mewarnai sejarah manusia dari dahulu hingga akhir masa nanti.

Hakikat Agama

Secara bahasa, agama berasal dari bahasa Sanskerta yang tersusun dari kata a berarti “tidak” dan gam berarti “pergi”. Jadi agama berarti tidak pergi, tetap di tempat, langgeng, abadi yang diwariskan secara terus-menerus dari satu generasi kepada generasi berikutnya (Jalaludin, 1978). Secara umum, agama diartikan sebagai “tidak kacau”. Maksudnya, orang yang memeluk agama dan mengamalkan ajaran-ajarannya dengan sungguh-sungguh, hidupnya tidak akan mengalami kekacauan (Yusuf, 1995).

Secara terminologi, beberapa filsuf atau pemikir besar mendefinisikan tentang agama sebagai berikut :

  • Emile Durkheim : Agama sebagai kesatuan sistem kepercayaan dan pengalaman terhadap sesuatu yang sakral yang menyatu dalam komunitas moral;
  • Karl Marx : Agama adalah keluh kesah dari makhluk yang tertekan hati dari dunia yang tidak berhati, tertekan jiwa dari keadaan yang tidak berjiwa. Menurutnya, agama adalah candu bagi masyarakat;
  • Spencer : Agama adalah kepercayaan akan sesuatu yang Mahamutlak
  • Dewey : Agama sebagai pencarian manusia terhadap cita-cita umum dan abadi meskipun dihadapkan pada tantangan yang dapat mengancam jiwanya. Agama adalah pengenalan manusia terhadap kekuatan gaib yang hebat.

Sebagian pemikir mengatakan bahwa agama mempunyai tiga ciri sebagai berikut :

  1. Keyakinan bahwa di balik alam materi ini ada alam yang lain;
  2. Penciptaan alam memiliki tujuan (teleologis);
  3. Alam memiliki konsep etika.

Kebutuhan Manusia terhadap Agama

Secara naluri, manusia mengakui adanya suatu “kekuatan” di luar dirinya. Hal ini dapat dilihat ketika manusia mengalami kesulitan hidup, musibah dan berbagai bencana. Ia mengeluh meminta pertolongan kepada sesuatu yang serbamaha. Naluri ini membuktikan bahwa manusia memerlukan agama dan membutuhkan sosok “Tuhan”. Pada masa primitif, kekuatan itu menjelma menjadi kepercayaan animisme dan dinamisme. Bentuk penghormatan itu berupa :

  • sesajian pada pohon-pohon besar, batu, gunung, sungai-sungai, laut, dan benda alam lainnya;
  • pantangan (hal tabu) yaitu perbuatan-perbuatan, ucapan yang dianggap mengundang murka pada kekuatan itu;
  • menjaga dan meghormati kemurkaan yang ditimbulkan akibat ulah manusia, misal upacara persembahan, ruwatan, mengorbankan sesuatu yang dianggap berharga (Yamin, 2006).

Menurut Yamin, beberapa faktor yang menyebabkan manusia membutuhkan agama :

  • Kondisi manusia, terdiri dua unsur, yaitu jasmani dan rohani. Keduanya memiliki kebutuhannya masing-masing, termasuk agama sebagai salahsatu kebutuhan rohani;
  • Status manusia, sebagai makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Manusia dibekali kelengkapan akal dan pikiran, kemuliaan dan berbagai kelebihan lainnya. Dengan akalnya, manusia dapat mengakui adanya Tuhan, Allah. Dengan hatinya, manusia menyadari bahwa dirinya tidak terlepas dari pengawasan dan ketentuan Allah SWT.
  • Faktor struktur dasar kepribadian, menurut Freud, struktur kepribadian manusia terdiri 3 bagian : aspek biologis, aspek psikis dan aspek sosiologis.

Selain itu, kebituhan agama merupakan fitrah manusia, atau dalam diri manusia terdapat fitrah keagamaan. Fitrah inilah yang melatarbelakangi perlunya manusia terhadap agama. Oleh sebab itu, wahyu Tuhan menyeru manusia agar beragama sejalan dengan fitrahnya (Nata, 1998).

Fungsi Agama dalam Kehidupan

Setiap agama memiliki watak transformatif, berusaha menanamkan nilai baru dan mengganti nilai-nilai lama yang bertentangan dengan ajaran agama (A’la, 2008). Secara terperinci, agama memiliki peranan yang dapat dilihat dari aspek keagamaan (religius), kejiwaan (psikologis), kemasyarakatan (sosiologis), hakikat kemanusiaan (human nature), asal-usulnya (antropologis) dan aspek moral (ethic) (Syukur, 2003).

Dalam ranah yang lebih umum, fungsi agama dalam kehidupan adalah sebagai penguat solidaritas masyarakat. Emile Durkheim menyatakan bahwa sarana keagamaan adalah lambang masyarakat, kesakralan bersumber pada kekuatan yang dinyatakan berlaku bagi seluruh anggota masyarakat, dan fungsinya adalah memperkuat solidaritas dan kewajiban sosial.

Dari segi pragmatisme, seseorang suatu menganut agama disebabkan fungsi agama tersebut. Bagi sebagian besar orang, agama berfungsi menjaga kebahagiaan hidup, namun dari segi sains sosial, fungsi agama sebagai berikut :

  • Memberikan pandangan dunia pada budaya masyarakat
  • Menjawab berbagai pertanyaan yang tidak mampu dijawab oleh akal manusia
  • Memainkan fungsi peranan sosial
  • Menjawab rasa ingin tahu manusia

Doktrin Kepercayaan Agama

Dalam pemikiran kaum Marxis, doktrin agama dianggap sebagai candu masyarakat yang melalaikan masyarakat dari berbagai penindasan kaum borjuis. Pernyataan Karl Marx dilatarbelakangi oleh konsteks demikian. Namun agama, terutama Islam, tidak menganjurkan manusia lalai dengan tindakan ketidakadilan yang ada di hadapannya.

Agama diturunkan untuk mengatur hidup manusia, meluruskan dan mengendalikan akal yang bersifat bebas. Kebebasan akal tanpa kendali tidak hanya menyebabkan manusia lupa diri, namun juga membawanya ke jurang kesesatan, mengingkari Tuhan, tidak percaya kepada yang gaib dan berbagai akibat negatif lainnya.

Hal istimewa pada doktrin agama adalah wawasannya lebih luas. Ada hal yang terkadang tidak bisa dijangkau oleh akal namun bisa dijelaskan oleh agama. Pada hakikatnya, tidak ada ajaran agama (yang benar) bertentangan dengan akal karena agama diturunkan hanya kepada orang-orang berakal (Kaelany, 2000).

Suka artikel ini? Silakan Share.