Pemikiran Musa Asy’ari tentang Trilogi Ekonomi Islam

Pandangan tauhid dalam ekonomi Islam

Ekonomi merupakan bagian dari kebudayaan. Sebagai bagian dari kebudayaan, ekonomi Islam sejatinya tidak terlepas dari pandangan tauhid sebagai dasar pandangan hidup umat Islam. Pandangan tauhid tersebut meliputi dimensi teologi, kosmologi dan antropologi yang menjadi dasar terbentuknya suatu kebudayaan. Kegiatan ekonomi dalam Islam berkaitan dengan usaha manusia untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik jasmani maupun ruhani. Ekonomi dalam Islam bukan hanya berkaitan dengan sandang, pangan dan papan, namun juga kebutuhan ruhani agar manusia mampu meraih kebahagiaan lahir dan batin.

Dimensi ekonomi dalam Islam sejatinya tidak lepas dari pandangan tauhid yang integral dengan realitas kegiatan ekonomi dan bisnis. Integralisme tauhid yang meliputi dimensi teologi, kosmologi dan antropologi menjadi landasan konsep ekonomi dalam Islam. Dimensi teologi memberikan landasan bahwa Tuhanlah yang menciptakan alam semesta (kosmos) dan manusia. Keduanya merupakan dasar realisasi kegiatan ekonomi. Tanpa adanya realitas kosmik dan manusia, mustahil kegiatan ekonomi dapat berlangsung.

Prof. Musa Asy’arie

Prinsip-prinsip dasar dalam Integralisme Tauhid

Dalam integralisme tauhid, ekonomi Islam didasarkan pada beberapa prinsip. Pertama, ekonomi Islam menolak konsep kepemilikan absolut karena semua kepemilikan sejatinya diperoleh melalui berbagai proses yang melibatkan kekuatan di luar dirinya. Kedua, ekonomi Islam menolak peredaran uang yang terpusat hanya untuk kelompok tertentu saja. Pemusatan peredaran uang akan semakin mempertajam kesenjangan ekonomi. Ketiga, ekonomi Islam didasarkan pada prinsip keadilan dan pemerataan untuk kesejahteraan dan kemakmuran bersama. Keempat, ekonomi Islam bertujuan menjaga martabat dan harga diri manusia sebagaimana ditegaskan dalam maqashid syariah. Kelima, ekonomi Islam menempatkan kreatifitas dan teknologi untuk kemaslahatan hidup bersama. Keenam, ekonomi Islam mengembangkan jiwa entrepreneurship sebagai jalan untuk mengatasi kemiskinan. Ketujuh, ekonomi Islam mengajarkan kewajiban untuk mencari rejeki yang halal, tayyib, manfaat dan berkah dengan keyakinan kelak di akhirat akan dimintai pertanggungjawaban atas rejeki yang didapatnya.

Baca juga :  Peran Masyarakat dalam Ekonomi Islam

Teologi ekonomi Islam

Teologi ekonomi Islam adalah nilai-nilai ketuhanan yang menjadi dasar bagi kegiatan ekonomi seorang muslim. Dimensi teologi dalam ekonomi Islam berkaitan dengan asal-usul kejadian manusia di dunia, yakni sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Oleh sebab itu, dimensi teologi dengan sendirinya melekat dalam setiap aktifitas kehidupan manusia, termasuk dalam kegiatan ekonomi.

Teologi ekonomi Islam menegaskan bahwa rejeki (termasuk kekayaan) yang diperoleh manusia sejatinya diberikan kepadanya sebagai jaminan dari Tuhan sebagai Pencipta. Dalam konteks ini, kekayaan yang diperoleh tidak dapat dimiliki secara mutlak, sebab ada faktor alam dan manusia lainnya yang terlibat dalam setiap kegiatan ekonominya. Di dalamnya terdapat tanggungjawab dan kewajiban teologis, kosmologis dan antropologis. Kewajiban teologis adalah bahwa manusia bertanggungjawab untuk senantiasa menjalankan hukum-hukum-Nya. Kewajiban kosmologis adalah kewajiban manusia dalam memelihara kelangsungan dan keseimbangan kosmos. Sedangkan kewajiban antropologis adalah setiap yang dimiliki seseorang, di dalamnya ada keterlibatan orang lain sehingga dalam harta dan kekayaan terdapat kewajiban sosial dan kultural untuk keharmonisan hidup bersama.

Kosmologi ekonomi Islam

Sejak awal penciptaan manusia hingga sekarang, manusia menempati ruang dan waktu kosmologis untuk hidup dan berkembang biak, di berbagai wilayah dengan kondisi kehidupan yang berbeda antara bangsa satu dengan bangsa lainnya. Dalam ruang-waktu kosmologis itu, manusia dengan akalnya mengambil peran sebagai subjek kreatif yang mampu menciptakan sesuatu yang baru berdasarkan apa yang sudah tersedia di alam ini. Oleh karena itu, manusia tidak boleh membuat kerusakan pada sumber kehidupannya sendiri karena kerusakan sumber kehidupan kosmik adalah kerusakan kehidupan seluruhnya.

Baca juga :  Maqashid Syariah dalam Ekonomi Islam

Dalam konteks ini, negara memiliki peran penting dalam rangka merawat kosmik guna keberlangsungan hidup bersama. Negara yang baik adalah negara yang dapat menjamin keamanan, serta dapat menyediakan kebutuhan sandang, pangan dan papan yang baik bagi warganya. Kosmologi ekonomi Islam menekankan perlunya manusia dan juga peran negara dalam menjaga keseimbangan dan harmoni di dalam kosmos untuk menjaga keberlangsungan hidup bersama.

Antropologi ekonomi Islam

Dalam kegiatan ekonomi dan bisnis, faktor manusia sangat penting karena berperan sebagai subjek sekaligus objek. Sebagai subjek, manusia sebagai pengusaha maupun karyawan yang terlibat dalam berbagai aspek kegiatan ekonomi dan bisnis. Sebagai objek, manusia berperan sebagai konsumen maupun objek pemasaran dari suatu produk atau jasa. Dengan demikian, kegiatan ekonomi dan bisnis akan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya.

Dalam ekonomi Islam, perlu penjelasan tentang konsep manusia karena dari kejelasan konsep tersebut dapat dikembangkan konsep ekonomi Islam. Konsep manusia dalam Islam adalah sebagaimana disinggung di bagian awal, antara lain visi atau pandangan tauhid manusia, monodualisme unsur teos dan kosmos, serta monopluralisme manusia dalam teos, kosmos dan kebudayaan.

Sumber: Musa Asy’arie, 2015, Filsafat Ekonomi Islam, Penerbit LESFI Yogyakarta.

Suka artikel ini? Silakan Share.