Sebuah catatan ulang tahun ketiga pernikahan

Print Friendly, PDF & Email

Tepat sehari yang lalu, 8 Agustus 2023, kami merayakan wedding anniversary (ulang tahun pernikahan) yang ketiga. Apapun bentuk dan caranya, sebuah momen bahagia layak untuk dirayakan. Perayaan tak harus dipenuhi dengan euforia kemewahan. Maka tahun ini kami merayakannya tanpa kue bertuliskan “happy anniversary“.

Kami memilih merayakannya di sebuah warung makan lesehan di daerah Kajen, Pekalongan. Namanya Warung Lesehan Riziq. Warung itu tergolong baru, namun lumayan ramai pengunjung setiap harinya. Kami sengaja memilih di situ karena beberapa alasan, termasuk karena tempatnya yang “ramah anak”. Kami mengajak Nizam, putra kami yang baru berusia 8,5 bulan. Dia sangat antusias, merangkak di atas rumput sintetis dan menghambur bersama bocil lainnya di wahana permainan.

Alasan lainnya adalah karena makan di warung lebih bikin kenyang daripada makan kue yang “mblengeri” dan bikin “jeleh“. Jujurly, ini alasan yang terlalu pragmatis. Alasan terakhir, kami memang sudah berencana untuk mengulang momen di warung ini, yakni pesan menu paket rahat ayam. Porsinya yang jumbo dan komplit (berisi aneka sambal, tempe kemul dan lalapan) tentu akan sangat memanjakan perut, bahkan terlalu kenyang untuk makan berduaan.

Di sisi lain, Sebetulnya kami ingin merawat momen family time. Kebetulan Nizam beberapa hari lalu diare dan susah makan, dan kemarin dia sudah mau makan lagi. Kondisi itu menambah rasa syukur atas momen perayaan pernikahan kami.

Pernikahan Arif & Tea, 8 Agustus 2020

Tiga tahun bukanlah waktu yang sebentar, namun juga belum terlalu lama. Kami merasa perlu untuk terus banyak belajar, terutama dalam hal membangun dan mewujudkan keluarga yang harmonis. Keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Menurut saya, kuncinya adalah saling mengerti dan memahami satu sama lain.

Menikah dan berkeluarga adalah sunnah Nabi Saw. Terwujudnya keluarga yang harmonis menjadi dambaan setiap orang yang menikah, dan tujuannya tentu saja menjadi keluarga bahagia dan diridai Allah. Begitu pula kami. Hari demi hari dalam pernikahan dijalani untuk mewujudkan itu. Namun ada satu hal penting yang tidak boleh kita lupakan, yaitu menghayati dan menikmati setiap momennya. Itulah wujud rasa syukur atas pernikahan.

Mungkin kita seringkali terganggu dengan kabar yang banyak tersebar di berbagai media tentang kasus-kasus dalam pernikahan yang cenderung negatif, mulai dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) hingga perceraian. Faktornya pun beragam, mulai dari kondisi ekonomi, hubungan yang tidak harmonis, perselingkuhan dan lain sebagainya. Berbagai berita negatif tentang hubungan kekeluargaan bisa dengan sangat mudah dan leluasa kita akses di berbagai platform online. Hal ini dapat menimbulkan keengganan dan kekhawatiran dalam membangun bahtera rumah tangga, terutama bagi para jomblo yang berniat untuk mengakhiri masa lajangnya.

Menikmati senja di alun-alun Kajen

Dalam pernikahan kami, tentu tidak hanya melulu diwarnai canda tawa bahagia sebagaimana dibayangkan ketika sebelum menikah. Ada pula rasa sedih, marah, sendu bahkan rindu. Yang paling penting adalah pengelolaannya, yakni bagaimana agar senantiasa menciptakan harmoni dalam keluarga. Dalam hal inilah sebetulnya momen perayaan itu menemukan alasannya.

Martin Heidegger menyebut orang-orang yang menghayati setiap momen kehidupannya sebagai Dasein. Dasein adalah manusia yang sadar akan eksistensinya dan punya visi ke depan. Ia berusaha untuk tidak menyia-nyiakan setiap momen. Hidupnya senantiasa bergairah dan terarah. Berbeda dengan Dasein, Das Man adalah manusia tanpa arah, terjajah oleh aturan-aturan, dan tergilas oleh banalitas kehidupan. Hidupnya mengalir begitu saja, tanpa tahu arah tujuannya.

Kita tentu saja tidak ingin menjadi Das Man. Kita semua berharap dapat menjadi Dasein, termasuk dalam hubungan pernikahan.  Dengan demikian, kita tak perlu khawatir dalam membangun rumah tangga, sebab ada visi  yang jelas. Visi itu bisa kita gali dari ajaran agama maupun realitas ilmiah modern. Alih-alih terjebak dalam modernitas yang membuat kita hilang arah, modernitas justru bisa menjadi wahana dalam membangun religiusitas, termasuk dalam mewujudkan keluarga yang harmonis.

Suka artikel ini? Silakan Share.