Rembulan Hitam – Bagian Dua (Selesai)

Print Friendly, PDF & Email

Seharian ini Bapak terbaring di kamar tidurnya. Maag-nya kambuh. Bapak memang susah dikasih tau soal menjaga kesehatan. Ia sering pulang larut malam, menghabiskan malam-malamnya di warung kopi Pak Slamet. Warung kopi pak Slamet memang selalu dijejali pengunjung, terutama saat malam hari. Saat di mana para petani melepas penat setelah seharian bekerja di sawah. Selain letaknya yang strategis dekat jalan raya, warung itu juga punya menu andalan, yaitu Kopsus Slamet yang membuat peminumnya ketagihan dan betah berlama-lama ngobrol di situ. Salah satunya Bapak. Bapak yang perokok berat dan penggemar kopi serasa menemukan surga di warung itu. Apalagi setelah Ibu meninggalkan rumah lima tahun lalu.

Aku mengabari Mas Ahmad soal kondisi Bapak. Ia segera bergegas ke rumah setelah selesai mengajar di kampus swasta di daerah Semarang. Ia sampai rumah sekitar pukul delapan malam.

“Gimana kondisi Bapak, Dik Anis?”

“Ya, sudah lumayan Mas. Tadi pagi, tiba-tiba Bapak ambruk sambil memegangi perutnya ketika baru keluar dari kamar. Maag-nya kambuh. Mungkin karena semalam begadang di Warkop Pak Slamet. Langsung saja aku larikan ke puskesmas dan sudah dikasih obat”.

Mas Ahmad menghela napas. “Syukurlah kalau tidak apa-apa. Seandainya saja…”. Ia tak melanjutkan kalimatnya. Aku langsung paham. Ini soal Ibu. Kenapa ibu tak pulang, hingga Bapak jadi seperti ini. Ibu adalah daya hidup bagi Bapak. Ibu adalah alasan Bapak membangun masa depan keluarga. Dan kini, rasanya bangunan itu runtuh dalam sekejap sejak ibu meninggalkan rumah dan belum pernah kembali, hingga kini.

Baca juga :  Api Tadzkirah-Tafkirah

“Ada apa dengan Ibu, Dik Anis. Bukankah Ia termasuk panutan para perempuan di dusun ini?”

“Iya, Mas. Tak ada yang mengira Ibu akan berbuat seperti ini. Bahkan aku sendiri, anak perempuan satu-satunya, yang di masa kecil pernah berjanji ingin menjadi seperti dirinya”.

“Dan sekarang aku melanggar janji itu. Aku tak mungkin mengikuti jejaknya”. Suaraku gemetar. Aku seperti mendengar debur jantungku sendiri.

Malam semakin larut. Sesekali sayup-sayup terdengar suara kodok yang saling bersahut-sahutan dari tepian blumbang samping rumah. Keheningan di rumah seringkali pecah oleh suara alam. Malam ini, aku akan menumpahkan semua kekecewaanku di antara suara-suara alam itu. Seolah aku ingin, tak hanya Mas Ahmad yang mendengar ini, tapi juga alam, juga Tuhan. Meski Tuhan Maha Mendengar, biarlah, biar rasa ini bisa tuntas semalaman.

“Mas pernah mendengar desas-desus Kristenisasi yang pernah merebak di desa-desa?”

“Iya, tapi di daerahku bisa segera diredam. Tak ada pengaruh signifikan, karena desaku memiliki basis Islam yang cukup kuat”.

“Tapi tidak dengan desaku, Mas. Memang sebagian besar masyarakatnya Islam, tapi Islamnya Abangan, Islam awam. Mereka mudah mengikuti siapapun yang mereka percayai, asal itu bisa menjamin kesejahteraan hidup mereka. Suara mereka mudah digiring seperti kapas-kapas diterpa angin”.

 “Lalu, apa hubungannya dengan Ibumu. Jangan-jangan…”

“Bukan, Mas. Ibu tak mungkin terpengaruh Kristenisasi. Ia adalah panutan. Wawasannya tentang Islam tak kalah dari ustazah-ustazah pendakwah di televisi. Justru Ibu ingin memperdalam wawasan Islamnya agar dapat mengembangkan ke-Islam-an di dusun ini.”

Baca juga :  Rembulan Hitam - Bagian Satu

“Lantas, mengapa Ia malah pergi dan tak kembali?”. Tak ada jawaban.

Ada hening yang cukup panjang, memberi waktu bagi makhluk-makhluk alam untuk memecah kesunyian. Aku hampir tak sanggup melanjutkan perbincangan ini. Ada sesak menggumpal di dada yang aku tahan sedari tadi. Wajah dan pipiku perlahan basah oleh air mata. Napasku mulai tersengal menahan isak tangis. Mas Ahmad segera paham. Ia mengajakku ke luar rumah. Makdhe Suti yang sedari tadi menjaga Bapak, menyeduhkan teh hangat untuk Kami. Aku mendongak ke langit, kulihat langit begitu gelap. Rembulan tampak pucat tertutup awan tebal. Sesekali kilat menyambar-nyambar di ufuk barat.

“Mas menginap saja, sepertinya akan turun hujan. Aku ingin menuntaskan ceritaku, agar lega hati dan pikiran ini”. Ujarku dengan wajah sembab.

“Baiklah”. Jawabnya sambil mengulas senyum. Aku tahu, Ia begitu peduli dan sayang padaku.

“Mendengar isu Kristenisasi, para tokoh agama di dusun kami resah dan segera mengambil sikap. Kebetulan waktu itu ada tawaran dari sebuah komunitas dakwah Islam untuk mengikuti diklat dakwah Islam di Solo. Mbah Modin segera menunjuk tokoh-tokoh yang dianggap mumpuni, termasuk Ibu.”

Mas Ahmad tampak antusias mendengarkan ceritaku. Sedangkan Aku, menceritakannya dengan dada bergemuruh. Aku ingin marah namun entah kepada siapa. Aku berusaha menuntaskan ceritaku.

“Perwakilan dari dusun ada empat orang, yang perempuan cuma Ibu. Lainnya adalah para pemangku surau . Program diklat dikabarkan berlangsung satu minggu. Setelah diklat selesai, mereka pulang, kecuali Ibu. Mbah Iman, salah satu sesepuh yang ikut diklat itu bilang, bahwa Ibu terpilih untuk mengikuti pelatihan dakwah lanjutan. Namun sampai sekarang, tak ada kejelasan.”

Baca juga :  Api Tadzkirah-Tafkirah

Mas Ahmad mulai merasakan keresahan yang sama denganku. Wajahnya tampak gelisah. Diketuk-ketuknya bibir gelas berisi air teh yang sudah dingin. Ia seperti menerka-nerka apa yang sebenarnya terjadi. Sesekali ia menerawang ke langit. Ia seperti hendak menyambung percakapan, namun segera diurungkannya.

“Sebenarnya, selain isu Kristenisasi, ada lagi isu yang lebih meresahkan, namun belum dirasakan masyarakat awam. Mereka membawa bendera yang sama dengan kita. Mereka lebih dekat dengan kita. Mungkin Mas Ahmad akan sependapat denganku soal ini. Mas juga pasti sudah paham”. Aku menggumam.

Mas Ahmad sudah takluk oleh kantuk. Ia tertidur di dekatku.

SELESAI.

Suka artikel ini? Silakan Share.