Menumpahkan Kegelisahan lewat Tulisan

“Menulis sejatinya adalah menumpahkan keresahan yang ada di benak kita”.

Satu kalimat, entah milik siapa, aku begitu saja mengamininya. Selama ini, aku menulis memang karena ada keresahan dan kegelisahan yang ingin aku ceritakan kepada setiap orang. Setidaknya ada sosok yang bisa aku ajak untuk berdialog, meskipun sosok itu adalah diriku sendiri. Ya, monolog sejatinya adalah dialog batin. Dialog aku dengan batinku. Mungkin itu bisa berupa suatu keadaan yang seolah baik-baik saja, namun ternyata ada banyak persoalan yang berkecamuk dalam benak. Persoalan-persoalan itu makin lama makin menumpuk. Andai itu tidak ditumpahkan, hanya akan menjadi beban. Solusinya, salah satunya aku wujudkan dalam bentuk tulisan.

Dalam tulisan ini, mungkin saja terselip kegelisahan-kegelisahan itu. Kali ini aku ingin mengungkapkan tentang kendala dalam menulis, tentunya dari sudut pandangku secara pribadi. Aku seringkali kehabisan ide dalam menulis. Ide adalah semacam bahan bakar agar tulisan mampu melaju dan mengalir dengan baik. Apa yang harus aku lakukan? Tentu saja, mencari sumber-sumber ide. Ide yang bagus biasanya tumbuh sebab banyak membaca. Ya, bacaan yang luas dan kaya mampu mempercepat tumbuhnya ide. Aku pernah menulis sebuah cerpen dalam sekali duduk karena sebelumnya aku sering membaca karya-karya fiksi. Saat itu aku sering baca kumpulan cerpen yang pernah terbit di Harian Kompas. Hasilnya lumayan, aku bisa menulis dengan cukup lancar. Cara ini (yaitu dengan banyak membaca) mampu memperkaya kosakata dan meningkatkan kemampuan berbahasa. Diksi dalam tulisan menjadi lebih kaya dan tulisan menjadi lebih rapi.

Ilustrasi: menuliskan sebuah gagasan

Cara lainnya untuk menggali sumber ide adalah dengan menceritakan pengalaman, entah itu pengalaman pribadi atau pengalaman orang lain. Cara ini lumrah dilakukan oleh para penulis. Mereka biasanya menuangkan pengalamannya melalui buku harian atau diary. Cara itu juga pernah aku terapkan ketika menulis cerpen. Aku menceritakan sebuah pengalaman, namun aku bungkus dalam bentuk fiksi. Aku rasa cara ini cukup menarik. Aku jadi bisa meramu antara pengalamanku dengan nilai-nilai yang aku tangkap dari berbagai sumber bacaan. Alhasil, tulisanku bukan murni sebuah cerita pengalaman, namun bukan pula sepenuhnya fiksi. Aku pernah membaca satu tulisan yang mengatakan bahwa cara inilah yang dilakukan para penulis masa Orde Baru dalam mengkritik pemerintah agar mereka tetap aman. Setidaknya mereka tidak mengkritik secara langsung dan lugas, di mana hal itu sangat berbahaya pada masa Orde Baru.

Baca juga :  Heidegger dan Seni Penerimaan Diri

Kendala lainnya dalam menulis adalah rasa malas dan berbagai alasan lain yang intinya berbunyi “tidak ada waktu untuk menulis”. Ini yang perlu kita lawan. Jika untuk menulis kita harus menunggu waktu luang, kita tidak akan pernah bisa menulis. Justru menulis itu harus meluangkan sebagian waktu kita. Itu yang perlu kita garistebali. Aku pun begitu, harus mengusahakan satu waktu untuk menulis agar betul-betul terwujud sebuah tulisan. Tentu, harapannya adalah tulisan yang bagus. Namun, untuk menghasilkan tulisan yang bagus bukanlah hal yang mudah dan instan. Banyak proses yang harus dilalui, seperti yang aku katakan tadi, yaitu dengan memperbanyak bacaan dan juga pengalaman. Nah, jika sudah banyak bacaan dan pengalaman kemudian kita enggan menulis, lantas ke manakah “libido menulis” yang sudah berada di ubun-ubun itu hendak kita tumpahkan?

Suka artikel ini? Silakan Share.